Pages

Kamis, 10 Maret 2016

karyaku

Cerpen persahabatan yang menuntun kita agar tidak memiliki iri hati terhadap sesama manusia. Selamat membaca dan semoga menjadi inspirasi kawan :) ..
JANJI OREO DAN BENG-BENG
Karya : Theresia Natalia Sekar Indah

           Tinggi, rambut lurus, kulit putih, senyum manis, dan ciri khas yang alergi tanah. Dialah Oreo, anak kelas 3 SMP 1 MAYORA. Ore punya sahabat bernama Berlian yang akrab disapa Beng-Beng. Mereka mempunyai janji persahabatan dengan menyatukan telapak tangan mereka dan mengucapkan “ Jiwa setia, jiwa sahabat, sampai akhir hayat ! “. Mereka sangat akrab dan selalu bermain bersama.
Oreo anak rajin dan cerdas. Di sekolah ia selalu mendapat nilai bagus, bahkan mau mengajari temannya yang kesulitan. Karena Oreo sering mengajari teman-temannya, Beng-Beng merasa tidak punya sahabat seperti dulu lagi. Semakin lama, Beng-Beng semakin kesal pada Oreo. Mulai saat itu timbul niat jahat Beng-Beng.
“ Aku akan melakukan apa saja ! Apa saja yang membuat Oreo kehilangan temannya!” usik hati Beng-Beng.
Bunyi bel tanda pelajaran pertama usai, semua bergegas ganti baju mengetahui Olahraga pelajaran berikutnya. Sepi tanpa jeritan dan cerewet anak-anak kelas saat itu, Beng-Beng menuju sudut kelas dan menaruh dompet kesayangannya di tas biru cantik.
“ Misi penting sudah beres.” Katanya dengan senyum licik.
Tetesan keringat dan  bau tubuh yang menyengat setelah olaharaga membuat anak-anak mengganti baju. Rutin setelah olahraga anak-anak mampir ke kantin kecil sekolah. Beng-Beng memulai siasatnya.
“ Siapa yang tahu dompetku ? Kenapa tidak ada ?” teriak Beng-Beng licik.
Bergegas semua membantu mencari barang itu. Seperti biasa ketua kelas menggeledah masing-masing tas. Kebingungan terjadi saat Gery, ketua kelas itu menemukan dompet Beng-Beng di tas Oreo.
“ Sungguh tak kusangka anak pintar yang menjadi idola mencuri dompet itu! “ kata Gery.
Oreo yang tak mengerti tak bisa berbicara. Bukti ada pada tas miiknya. Sorakan menyakitkan keluar dari teman-teman sekelasnya. Dipikirnya, kasus ini akan segera selesai. Tetapi saat pulang sekolah, tanpa sepengetahuan Beng-Beng, teman-teman mereka menghadang Oreo di depan sekolah. Gumpalan-gumpalan tanah basah dan bebatuan dilemparkan di tubuh Oreo yang  tak bersalah. Sesekali Oreo membela diri, tapi tiada arti bagi anak-anak yang kejam itu. Hingga Oreo berlumur darah dan gatal-gatal hebat akibat tanah itu menyambar.
Kicauan burung diatas pohon mengiringi pagi yang cerah itu. Langkah kaki  Beng-Beng telah memasuki kelas. Tak kelihatan batang hidung Oreo di sudut kelas seperti biasa. Beng-Beng merasa puas dengan perbuatannya kemarin. Tapi sedikit rasa tak enak hati merasuki tubunya. Perasaan bersalah telah menyakiti sahabatnya.
“ Mungkin akan kujelaskan semuanya, aku hanya ingin di bermain bersamaku lagi, bukan untuk niat apapun. Setelah ia masuk akan kubicarakan dengannya. “ kata Beng-Beng dalam hati.
Sedangkan di tempat lain selang terpasang di hidung Oreo, dikenakannya baju hijau polos. Ya saat itu koma yang menghampiri hidupnya. Akibat alerginya dan luka pada saat kejadian itu. Tersungkur di tempat tidur dan di ruang gelap sendirian. Beng-Beng tak mengetahui hal itu.
Lima hari berlalu. Beng-Beng telah lelah menunggu Oreo, hingga ia putuskan untuk pergi ke rumah Oreo. Kaget yang dahsyat dan lemas menghantam Beng-Beng. Perasaan tak karuan dan bersalah sangat dirasakannya. Ia baru tahu Oreo koma karena dilempar tanah oleh teman-temannya. Lari ke tengah kota dan pergi ke rumah sakit yang dilakukannya. Dilihatnya Oreo terbaring lemah. Beng-Beng memegang tangan Oreo, isak tangis terlihat di wajah mungil Beng-Beng. Entah itu keajaiban Tuhan atau apa, tiba-tiba Oreo bangun dan menatap semua keluarga serta sahabatnya. Berbicara pelan yang dilakukannya. Langsung Beng-Beng menjelaskan semuanya.
“ Aku minta maaf Oreo, sungguh aku hanya ingin kamu bermain denganku lagi. “ ucap Beng-Beng tersedu-sedu.
“ Tak apa, aku sudah memaafkanmu. “ balas Oreo.
Terenyuh, itulah yang dirasakan Beng-Beng. Pelukan hangat yang dilakukan keduanya sambil mengucap janji mereka, “ Jiwa sejati, Jiwa sahabat, sampai akhir hayat !”. Tangan halus Oreo jatuh dari pelukan Beng- Beng. Kaget dirasakan semuanya. Nafas Oreo sudah tak terasa lagi. Tangisan jatuh dari orang-orang yang disanyangi Oreo. Tak rela Oreo meninggalkan dunia secepat itu. Beng-Beng merasa amat bersalah dan hanya bisa menangis. Ibu  Oreo hanya bisa menenangkannya. Sejak kejadian itu Beng-Beng pindah ke luar kota untuk melupakan semuanya dan mengenang O\reo sebagai sahabat terbaik seumur hidupnya.

THE END

0 komentar:

Posting Komentar